Minggu, 23 Mei 2010

PENGANTAR METODOLOGI STUDI ISLAM

PENGANTAR METODOLOGI STUDI ISLAM

I. PENDAHULUAN
Di penghujung abad ke-20, Motodologi Studi Islam (MSI) mulai mendapatkan perhatian yang serius. Departemen agama RI menjadikannya sebagai mata kuliah baru yang wajib diikuti seluruh mahasiswa IAIN pada semua fakultas dan jurusan sejak munculnya kurikulum IAIN 1997. sejak itu banyak mahasiswa dan bahkan para dosen yang merasa bahwa MSI adalah matakkuliah yang benar-benar baru. Sedemikian sehingga terkesan masyarakat muslim sejak berabad-abad yang lalu tidak atau belum mempunyai metodologi dalam memahami Islam. Sesunguhnya ini tidak lah benar, MSI merupakan pengembangan dari metodologi studi Islam klasik. Ini kurang lebih sama dengan pemakaian kata “baru” dalam frase “software baru” dalam dunia komputer. Baru di situ berarti bukan sebelmnya tidak ada software sama sekali, tetapi pengembangan dari software yang ada sebelumnya.

II. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian metode, metodologi, paradigma, dan pendekatan?
B. Bagaimana Arti dan lingkup studi Islam?
C. Apa Urgensi mempelajari Metodologi studi Islam?
D.Apa Aspek-aspek Sasaran studi Islam?
E. Bagaimana Pertumbuhan studi Islam dulu dan sekarang?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian metode, metodologi, paradigma, dan pendekatan
1. Pengertian metode
Metode berasal dari bahasa Yunani metodos yang berarti cara atau jalan.
Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan
Menurut Ahmad Yunnus, metode adalah jalan yang ditempuh oleh seseorang agar sampai pada tujuan tertentu, baik dalam lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kumpulan ilmu pegnetahuan dan lainnya.
Dari definisi di atas, maka dapat dikatakan bahwa metode mengandung adanya urutan kerja yang terancang, sistematis, dan merupakan hasil dari eksperimen ilmiah guna tujuan yang telah direncanakan.
2. Pengertian metodelogi
Metodologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu metodos yang berati jalan, dan logos yang berarti ilmu. Metodologi adalah ilmu tentang cara untuk sampai pada tujuan. Manurut Asmuni Syukir, metodologi berarti ‘ilmu pegnetahuan yang mempelajari tentang cara-cara atau jalan yang efektif dan efisien.
3. Pengertian paradigma
Paradigma adalah teori-teori, metode-metode, fakta-fakta, eksperimen-eksperimen, yang telah disepakati dan menjadi pegangan bagi aktivitas para ilmuan. Jadi, paradigma adalah pandangan fundamental tentang apa yang menjadi pokok persoalan didiplin tertentu.
4. Pengertian pendekatan
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, pendekatan adalah 1). Proses perbuatan, cara mendekati 2). Usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. “Dalam bahasa Ingggris, pendekatan diistilahkan “approach” dalam bahasa Arab disebut dengan “madkhal”.
Secara terminologi, Mulyanto Sumardi mengatakan bahwa, pendekatan bersifat axiomatik, ia terdiri dari serangkaian asumsi tentang bahasa dan pegnajaran bahasa serta belajar bahasa.
B. Arti dan lingkup studi Islam
Studi Islam atau di Barat dikenal dengan istilah Islamic Studies, secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Dengan perkataan lain, “usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik berhubungan dengan ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya.”
Studi Islam adalah pengetahuan yang durumuskan dari ajaran Islam yang dipraktekan dengan sejarah dan kehidupan manusia, sedang pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran allah dan rasulnya secara murni tanpa dipengaruhi sejarah, seperti ajaran tentang akidah, ibadah, membaca al-quran dan akhlak.
Kalau kita membicarakan agama akan dipengaruhi oleh pandangan pribadi, juga dari pandangan agama yang kita anut. Untuk mendapatkan pengertian tentang agama, religi, dan din kita mengutip pendapat seperti: Bozman, bahwa agama dalam arti luas merupakan suatu penerimaan terhadap aturan-aturan dari pada kekuatan yang lebih tinggi dari manusia.
H. Moenawar Cholil dalam bukunya “Definisi dan sendi agama” kata diein itu masdar dari kata kerja “daana” yad i enu”. Menurut Jughat kata “dien mempunyai arti :
1. Cara atau adat kebiasaan
2. Peraturan
3. Nasihat
4. Agama dan lain-lain
Dari pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan :
1. Baik agama, religi, dan dien kesemuanya mempunyai pengertian yang sama.
2. Aktivitas dan kepercayaan agama, religi, dan dien mencakup masalah: kepercayaan kepada Tuhan.
Agama bertitik tolak dari adanya suatu kepercayan terhadap suatu yang lebih berkuasa, lebih agung, lebih mulia dari pada makhluk. Agama berhubungan dengan masalah ketuhanan, dimana manusia yang mempercayainya harus menyerahkan diri kepada-Nya, mengabdikan diri sepenuhnya karena manusia mempercayainya, ada 4 ciri yang dapat kita kemukakan yaitu :
1. Adanya kepercayaan terhadap yang ghaib, kudus dan Maha Agung dan pencipta alam semesta (Tuhan).
2. Melakukan hubungan dengan berbagai cara seperti dengan mengadakan upacara ritual, pemujaan, pengabdian dan do'a.
3. Adanya suatu ajaran (doktrin) yang harus dijalankan oleh setiap penganutnya.
4. Ajaran Islam ada Rasul dan kitab suci yang merupakan ciri khas daripada agama.
5. Agama tidak hanya untuk agama, melainkan untuk diterapkan dalam kehidupan dengan segala aspeknya.

C. Urgensi mempelajari studi Islam
Dimasa sekarang ini dimana umat Islam sedang mengalami tentangan kehidupan duina dan budaya modern, studi keIslaman menjadi sangat urgen. Urgensi Islam tersebut dapat diuraikan dan di fahami sebagai berikut:
Umat Islam saat ini berada dalam kondisi problematis, saat ini umat Islam masih berada dalam piosisi termarginalkan (pinggir) dan lemah dalam aspek kehidupan sosial budaya yang harus berhadapan dengan dunia modern yang maju dan canggih untuk itu umat Islam harus melakukan gerakan pemikiran yang menghasilkan konsep yang cemerlang dan operasional untuk mengantisipasi perkembangan tersebut.
Jika umat Islam hanya berpegang pada ajaran Islam penafsiran ulama’-ulama Islam terdahulu yang merupakan warisan turun temurun yang dianggapnya sudah paling benar, maka mereka mengalami kemandekan intelektual, melalui pendekatan yang bersifat objektif rasional studi Islam mampu memberi alternatif dari kondisi tersebut.
Umat manusia dan peradabannya saat ini sedang berada dalam keadaan yang problematis, pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah membuka era baru dalam perkembangan budaya dan peradaba umat manusia yang dikenal dengan era globalisasi. Pada era ini ditandai dengan semakin dekatnya jarak dengan hubungan serta komunikasi antar bangsa dan budaya umat manusia.
Dalam suasana semacam itu, umat manusia membutuhkan aturan-aturan, nilai-nilai, dan norma-norma serta pedoman dan pegangan hidup yang universal. Sumber-sumber tersebut dapat diperoleh dari agama, filsafat, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun agama telah ditinggalkan oleh perkembangan filsafat, ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetepai, filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak mampu menjadi pedoman dan pegangan hidup. Dengan demikian, manusia modern pun sebenarnya dalam keadaan yang problematis.
Harold H. Titus dan ahli filsafat yang lainnya menjelaskan situasi problematis tersebut, bahwa “filsafat sekarang telah mencapai kekuatan yang besar, tetapi tanpa kebijaksanaan. “ saat ini manusia mempunyai kemampuan yang sangat besar untuk menguasai alam semesta. Ternyata dengan adanya kemajuan-kemajuan yang sangat menakjuban tersebut membuat pemikiran resah dan gelisah. Pengetahuan menjadi terpisah dari nilai, kekuatan besar telah tercapai tanpa kebijaksanaan. Manusia telah mencapai kekuatan yang besar dalam bidang sain dan teknologi, tetapi hal itu digunakan untuk maksud destruktif.
Roger Garaudy mengemukakan bahwa “perkembangan filsafat dan peradaban modern saat ini telah mendorong manusia kepada hidup tanpa tujuan dan membawa kematian”. Hal ini merupakan akibat dari perkembangan filsafat barat modern yang salam arah, yang berpegang pada:
1. Konsep yang keliru tentang alam, dianggap sebagai milik manusia, sehingga mereka berhak mengeksploitasinya sesuka mereka.
2. Konsep yang tidak mengenal belas kasihan tentang hubungan mansuia yang didasarkan atas individualisme tanpa kembali dan hanya menghasilkan persaingan pasar.
3. Konsep yang menyebabkan rasa putus asa terhadap masa depan.
Disinilah urgensi studi Islam untuk menggali kembali ajaran-ajaran Islam yang asli dan murni serta bersifat manusaiwi dan universal, yang mempunyai daya untuk mewujudkan dirinya sebagai rahmatan lil alamin. Dari situ kemudian dididikan dan ditransformasikan kepada generasi penerusnya dan diharapkan dengan peradaban dan budaya modern, agar mampu beradapan dan beradaptasi terhadapnya. Dengan demikian diharapkan bisa menawarkan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapai oleh umat manusia dalam dunia modern dan era globalisasi.
D. Aspek-aspek studi Islam
Pendidikan pada dasarnya mengandung arti dan peran yang sangat luas. Arti dan peranan tersebut searah dengan aspek pemgembangan menjadi sarana garapan para pendidik Islam mempunyai pengertian ynag sama bahwa pendidikan Islam mencakup aspek-aspek:
1. Pendidikan keagamaan
2. Pendidikan akidah dan ilmiah
3. Pendidikan akhlak dan budi pekerti
4. Pendiidkan jasmani dan kesehatan

a. Pengembangan kognitf, yaitu kemampuan intelektual yang terus dikembangkan melalui pendidikan Islam.
b. Kemampuan afektif, adalah kekhusssan mengembangkan akal melalui pengetahuan dan pemahaman terhadap kenyataan dan kebenaran, manusia harus mengalami proses pengembangan perasaan dan penghayatan agar menjadi lebih luas.
c. Pengembangan psikomotorik, adalah ilmu pengetahuan termanifestasi dalam akhlak dan amal shaleh.
Kebenaran manusia sebagai makhuk sosial merupakan bagian yang terpisahkan dari arti peranan pendidikan Islam. Pendidikan Islam merupakan motor penggerak untuk pengembangan nilai-nilai soisal dan susila menusia. Hakikat pendidikan Islam merupakan pembimbing menuju peningkatan harkat dan martabat manusia sesuai dengan fitrah kejadiannya. Pendidikan Islam mencakup:
1. Tarbiyah ruh (pendidikan jiwa / mental spiritual)
2. Tarbiyah aqli (pendidikan akal pikiran / ilmu pengetahuan)
3. Tarbiyah jismi (pendidikan jasmani, termasuk kesehatan)
Modal pendidikan Islam adalah dalam lingkungan keluarga dan masjid sebagai pusat pendidikan serta pendidikan Islam dipraktikan memalui sistem pendidikan terpadu mulai dari tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
Pendidikan Islam mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan fisik, akal, agama, dan akhlak. Pendidikan Islam pada prinsipnya ada dua, yaitu materi pendidikan yang berkenaan dengan masalah hakikat.
E. Pertumbuhan studi Islam dulu dan sekarang
a. Pertumbuhan Studi Islam pada Masa Dahulu
Selama penggal sejarah timbulnya islam, peradaban dunia meliputi dua kerajaan: yaitu Sasanid Persia dan bizanti roma yang bersuku badui dan pengembala unta yang hidupnya dengan cara berkabila-kabila dan berdagang. Suku khurais yang hidup berdagang, yang mendominasi kota perdagangan Mekkah damana Muhammad juga memulai aktifitasnya dan di tempat itu pula islam pertama kali diproklamirkan. Pendidikan Islam pada zaman awal dilaksanakan di masjid-masjid. Mahmud Yunus menjelaskan bahwa pusat-pusat studi Islam klasik adalah Mekkah dan Madinah (Hijaz), Bashrah dan Kufah (Irak), Damaskus dan Palestina (Syam), dan Fistat (Mesir). Madrasah Mekkah dipelopori oleh Mu’adz bin Jabal; madrasah Madinah dipelopori oleh Abu Bakar, Umar dan Ustman; madrasah Bashrah dipelopori oleh Abu Musa al-Asy’ari dan Anas bin Malik; madrasah Kuffah dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud; madrasah Damaskus (Syiria) dipelopori oleh Ubadah dan Abu Darda; sedangkan madrasah Fistat (Mesir) dipelopori oleh Abdullah bin Amr bin Ash’.
Pada zaman kejayaan Islam, studi Islam dipusatkan di ibukota Negara, yaitu Bagdad. Di Istana Dinasti Bani Abbas pada zaman al-Makmun (813-833), putra Harun al-Rasyid, didirikan Bait al-Hikmah, yang dipelopori oleh khalifah sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dengan wajah ganda; sebagai perpustakaan serta sebagai lembaga pendidikan (sekolah) dan penerjemahan karya-karya Yunani kuno ke dalam bahasa Arab untuk melakukan akselerasi pengembangan ilmu pengetahuan.
Di samping itu, di Eropa terdapat pusat kebudayaan yang merupakan tandingan Bagdad, yaitu Universitas Cordova yang didirikan oleh Abdurrahman III (929-961 M) dari Dinasti Umayah di Spanyol. Di Timur Islam, Bagdad, juga didirikan Madrasah Nizhamiah yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizham al-Muluk; dan di Kairo, Mesir, didirikan Universitas Al-Azhar yang didirikan oleh Dinasti Fatimiah dari kalangan Syiah. Dengan demikian, pusat-pusat kebudayaan yang juga merupakan pusat studi Islam pada zaman kejayaan Islam adalah Bagdad, Mesir dan Spanyol.

2 komentar: